Pages

Selasa, 31 Desember 2013

Cerpen yang Gak Juara :"D

Aku ikut lomba cerpen tingkat nasional. Gak tau diri banget aku tulisan ancur diikutkan ke lomba gituan. Yah gak apa-apalah itung-itung sebagai pengalaman terjebak di dunia curhat-zone di dunia tulis-menulis. Dan hasilnya... Yeeeee :D aku KALAH -_- => T^T . Kecewa? Lumayanlah. Tapi lebih kecewa saat di PHP dan terjebak di friendzone dan curhat-zone (eh sorry curhat dikit. SENGAJA!). Mau baca cerpenku? Sebaiknya jangan karena efeknya lebih dahsyat dari bencana nuklir di Chernobyl. Sebelum membaca harus sholat tolak bala dulu untuk meminta perlindungan kepada Allah dari marabahaya yang diakibatkan oleh coretan-coretan saya. Untuk yang nasrani silahkan ke gereja dulu, untuk yang hindu silahkan ke pura dulu, untuk yang budha silahkan ke vihara dulu. Sebelum membaca sediakan kantung muntah juga.

Daaan inilah cerpenku......

Hujan
Hujan memadamkan apiku, menghapus warna merah jambu, menghanyutkan semua rasa. Ini bukan salah hujan, ini bukan salahmu, ini bukan salahnya. Ini salahku yang terlalu takut untuk menghadapi percikan api asmara di dadaku.
                                                                        *****
“Wah hujan”
Aku segera mempercepat langkahku. Aku tak ingin datang ke sekolah dalam keadaan basah kuyup. Hujan mengguyur semua sudut kota. Yang tadi hanya berupa titik-titik gerimis berubah menjadi gerombolan air yang marah.
“Sial”, umpatku.
Aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Sialnya hujan terlalu deras. Alhasil aku sampai di halte bus dalam keadaan basah kuyup. Tak lama, bus pun tiba. Semua orang di bus memandangku dengan tatapan aneh. Aku jadi tidak enak untuk duduk. Akupun memilih untuk tetap berdiri.
“Duduk aja”, seseorang menyapaku.
“Sial”, aku mengumpat dalam hati. “Kenapa ada dia, di saat aku seperti ini, sial”.
“Eh.. Iya. Ndak apa-apa aku berdiri aja nanti kamu basah.”
“Santai aja lagi. Sini duduk. Ngomong-ngomong namamu siapa. Sekolah dimana”
“Eh.. Aku. Anu namaku Sita. Aku dari SMA Cemara”
“Namaku Rian. Aku sekolah disana juga. Kamu kelas berapa kok gak pernah kelihatan?”
“Kelas 11 IPA 5”
“Aku kelas 11 juga tapi aku di IPA 2,  kok aku gak pernah keliatan kamu ya? Anak baru?”
“Bukan. Cuma aku jarang keluar kelas.”
“Oh, gitu”

Suara degup jantungku berpacu dengan suara gemuruh hujan.  Keringat yang bercucuran tertutupi oleh air hujan yang membasahi tubuhku. Aku terus terdiam sepanjang perjalanan. Badanku gemetaran, entah karena aku kedinginan atau karena ada dia. Entah.
“Kenapa? Kamu kedinginan? Mau pinjem jaket?”, Rian bertanya padaku.
“Ya, mau. Makasih ya.”
“Sama-sama.”

Aku memandang ke seberang jalan. Menyesapi keindahan yang mengecupku di pagi hari yang penuh rintik hujan. “Lagi lihat siapa?”, Rian membuyarkan lamunanku.
“Eh gak ada, Cuma lihat hujan. He..he..”
“Jangan ngelamun. Nanti kesambet lho.”
“He..he.. ok.”

Aku menunduk, menikmati irama degup jantungku yang berdetak tak menentu. Berdebat dengan semua pikiran yang berjalan di benakku.
                                                                        *****
“Hhhhh”, aku menghela nafas membayangkan bagaimana hasil ulangan biologiku nanti. Ya, aku tidak pandai biologi. Pelajaran yang bagi orang lain mudah telah menjadi musuh bebuyutanku sejak dulu.
“Hoy, ngelamun aja kerjaanmu”, lagi-lagi Rian datang mengagetkanku.
“Eh kamu Yan. Kaget aku. Dasar ya, kerjaanmu ngagetin orang mulu.”
“Daripada kamu tukang ngelamun. Emang lagi mikir apa sih kok suntuk banget mukamu.”
“Ini tadi aku ulangan Biologi banyak yang gak bisa. Padahal aku sudah belajar.”
“Ya, mungkin kemampuanmu bukan di biologi. Santai aja, kan setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing”, Rian menghiburku.
“Betul juga kamu.”
“Kalau kamu gak bakat di biologi ya sudah gak usah sedih. Kembangin aja bakatmu yang lain”, Rian memberiku saran.
“Makasih ya masukannya.”
“Yoi. Sama-sama.”
                                                                        *****
Hari demi hari, bulan demi bulan aku dan Rian semakin dekat. Kami seperti saudara, kemana-mana selalu bersama. Dimana ada aku pasti ada Rian. Kami saling mengetahui rahasia satu sama lain, termasuk tentang cowok. Aku sudah menceritakan tentang cowok yang aku sukai kepada Rian. Tapi anehnya dia tidak ingin memberitahuku tentang siapa cowok yang disukainya. Aku sudah memaksanya untuk memberitahuku. Namun nampaknya dia masih bersikeras tidak ingin memberi tahuku.
“Siapa Yan? Kasih tahu dong. Kan aku sudah ngasih tahu kamu.”
“Aduh, Sit. Sudah aku kasih tahu kamu berkali-kali. Nanti kalau kamu tahu kamu pasti ngejauhin aku, gak mau temenan sama aku.”
“Jangan konyol, Yan. Gak bakal kok, aku janji. Masa gara-gara gitu doang aku gak mau temenan sama kamu.”
“Kamu keras kepala banget sih.”
“Kamu tuh yang keras kepala.” Aku berpura-pura ngambek agar Rian mau memberi tahuku.
“Aduh, Sit. Jangan pake acara ngambek dong. Oke oke aku kasih tahu. Aku itu suka ke”
“Teeeet... teeeet...”, tiba-tiba bel tanda masukpun berbunyi.
“Eh, Sit. Aku ke kelas dulu ya. Sekarang pelajarannya Pak Robi, bisa gawat kalau telat masuk kelas, daaah”, Rian berlari menuju kelasnya, meninggalkanku yang sedang penasaran tentang siapa cowok yang sedang disukai Rian.
“Eh.. eh... malah pake acara kabur”, aku mengejar Rian yang sedang berlari menuju kelasnya. “Riani, jangan kabur kamu. Ayo kasih tahu siapa”, Aku berhasil menggenggam tangan Rian.
Tapi, tiba-tiba kami berpapasan dengan Aray. Aku langsung bersembunyi di balik punggung Rian. “Hey, Ray”, Rian menyapa Aray.
”Hey, Yan”, Aray membalas sapaan Rian.
”Ngapain Sit kamu sembunyi. Malu-maluin aja, itu malah bikin Aray semakin curiga kalau kamu suka dia.”
“Aku kan malu.”
“Yaelah. Ubahlah sikapmu kalau ketemu Aray. Biar gak malu-maluin. Biar gak kentara kalau kamu suka Aray. Tingkahmu pas di bis itu aja udah bikin aku curiga kalau kamu suka Aray.”
“Heeeh, jadi kamu sudah tahu dari waktu hujan itu?”
“Bukan tahu juga sih. Tapi curiga.”
“Gak ada bedanya itu, Riani.”
“Bedalah. Eh lepasin Sit, aku mau masuk kelas”, Riani menghentakan tangannya dan segera berlari menuju kelasnya.
“Yan, kamu belum kasih tahu aku. Riani.”
Sampai saat ini Rian masih bersikukuh tidak ingin memberi tahuku. Aku memaklumi itu, aku tidak lagi memaksanya untuk memberi tahuku karena setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin dia beri tahu kepada siapapun.
                                                                        *****
Tak terasa aku sudah kelas 12 SMA. Tinggal 2 minggu lagi aku akan menghadapi ujian nasional. Tentunya berbagai macam perasaan campur aduk menyelimuti benakku. Apalagi sebulan terakhir ini Rian sudah tidak pernah bermain denganku lagi. Dia sudah tidak pernah mengunjungi rumahku. Bahkan keluargaku sampai menanyakan kenapa Rian tidak pernah lagi main ke rumah. Awalnya aku memaklumi, karena ujian nasional semakin dekat. Pasti dia sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional. Tapi tingkahnya semakin aneh karena dia tidak pernah lagi menghubungiku bahkan saat di sekolah dia cenderung menghindariku. Entah, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada sahabatku.
                                                                        *****
Pagi ini suasana dingin sekali karena hujan mengguyur kotaku sejak kemarin. Saat di sekolah aku dihantam berita yang tidak mengenakan. Aku mendengar desas-desus bahwa Aray sudah punya pacar sejak 1 bulan yang lalu. Hal itu tentu saja menyakitiku, ingin sekali aku menangis dan bercerita kepada Rian.

Sepulang sekolah aku pergi ke rumahnya. Baru saja pintu dibuka oleh Rian aku langsung menghambur ke pelukannya sambil menangis. Rian tentu saja kaget oleh tingkahku.
“Ada apa, Sit. Kok nangis?”
“Aray yan. Aray.”
“Kenapa Aray?”
“Dia punya pacar.”
“Ayo cerita di kamarku.”
Aku menceritakan semuanya ke Rian sambil menangis sesenggukan. Entah sudah berapa lembar tissue habis kugunakan.

“Mungkin dia bukan pria terbaik untukmu. Cobalah untuk tegar dan melupakan”, Rian mencoba membesarkan hatiku.
“ Tapi aku sudah suka dia dari kelas 10 SMA.”
“Sita, banyak sekali cowok di luar sana yang sedang menunggu gadis manis sepertimu. Cobalah buka matamu dan buka hatimu. Kamu pasti akan menemukan pangeran impianmu.”
“Tapi Yan. Tapi.”
“Dimana sosok Sita yang selalu ceria dan kuat. Masa gara-gara cowok aja sudah lembek”, Rian berusaha menghiburku. “Ayo senyum. Mana senyumnya?”
Akupun mencoba untuk tersenyum.
“Ah gak ikhlas itu senyumnya. Yang lebar dong”, Rian memperlihatkan semua gigi-giginya yang putih.
“Hahaha”, akupun tertawa melihat ekspresi anehnya itu.
“Nah gitu dong. Itu baru Sita.”
                                                                        *****
Ujian nasional sudah terlewati. Pengumuman kelulusan juga sudah diumumkan. Aku dan Rian lulus dengan hasil memuaskan. Ingin sekali aku merayakan kelulusan kami sekaligus ulang tahunnya . Akupun merencanakan kejutan untuknya.

Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Aku bersiap dengan kado dan sebuket mawar merah jambu, kesukaaan Rian. Aku sengaja tidak memberi tahunya karena ini adalah sebuah kejutan.

Aku berjalan menuju rumah Rian yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Sialnya di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akupun berlari sambil melindungi kado dan sebuket mawar merah jambu untuk Rian. Saat sudah dekat dengan rumah Rian aku melihat sepeda motor Aray di depan rumah Rian.
“Loh kok ada motornya Aray”, berbagai pertanyaan melingkupi benakku.
Aku memperlambat jalanku. Saat berada di seberang jalan di depan rumah Rian aku melihat pemandangan di teras rumah Rian yang menusuk mata dan hatiku. Kado dan sebuket mawar merah jambu jatuh dari genggamanku. Hanyut menuju selokan bersama hujan dan air mataku.

                                                                  (TAMAT [mungkin...])

Jika anda sudah membaca hingga tulisan ini SELAMAT. Anda termasuk manusia super karena sudah mampu menolak efek cerpen ini (Halah apane). Arigatou Gozaimasu XD 

Happy New Years. Welcome 2014 :D

Tidak terasa 2013 sudah terlewati. Tentunya banyak sekali kenangan-kenangan yang tercipta di 2013. Dari kenangan yang buruk yang rasanya pengen dilupain sampai kenangan yang indaaaah banget sampe sering diingat-ingat diresapi setiap hari (tsaah). Well apapun yang terjadi di 2013 adalah pembelajaran yang sangat berharga untuk menyongsong tahun 2014. Semoga yang buruk-buruk di tahun 2013 tidak terulang lagi 2014. Jangan sampai jatuh di lubang yang sama.

Bicara tentang tahun baru pasti pada punya rencana untuk merayakan tahun baru. Ada yang ngadain party bareng temen-temen. Ada yang barbeque-an bareng keluarga. Bahkan ada yang yasinan satu keluarga (Seperti keluarga saya tercinta. Haha). Apapun acaranya pasti bermakna dan bekesan bagi kita.

Ada beberapa benda yang khas di tahun baru. Apakah itu.. (Tooooeet...toeeet... Duaarr...duar...). Ya bener banget terompet dan kembang api. Gak afdhol namanya kalau tahun baru gak ada dua sejoli ini (apane -_-). Saat detik-detik pergantian tahun seketika para terompet tersebaut bersuara bak klakson kendaran pas lagi macet, bersahut-sahutan. Langit dipenuhi oleh warna-warni kembang api yang bentuknya kayak bunga. Semarak dan rame dah pokoknya.

Sekarang saya akan cerita tentang acara tahun baru ini. Gak usah dibaca, ini dapat menyebabkan mata iritasi dan bintilan. Kalau bersikeras mau baca mending pake kaca mata hitam karena efeknya sangat buruk hingga menyebabkan kebutaan, buta akan cintamu padaku (halah apane -_-).

Malam tahun baru ini dihiasi oleh hujan deras, petir yang bersahutan, suara guntur yang menggelegar, mati lampu, lilin, baterai laptop habis pas mati lampu, bertengkar rebutan modem sama adik, kepedesan, lapar, makan, dan yasinan.

Sebagai jomblo terhormat aku bersuka cita saat sekitar jam 6 malam hujan dan petir menyambangi Balung dan sekitarnya. Ditambah mati listrik. Yeee gak bakal ada acara tahun baruan. Do'a jomblo terhormat selalu dikabulkan. Hahaha 3:D (tawa iblis). Jadilah di keluarga kecilku yang kucinta acara tahun barunya adalah yasinan biar tahun depan jadi tahun berkah (amiiin). Tapi harapan kami para jomblo terhormat pupus saat sekitar jam 8.30 hujan mulai reda dan listrik sudah nyala. Tidaaaaaaaak,, hiks... hiks... kenapa ini terjadi padaku T^T (ratapan jomblo terhormat). Tapi kabar buruk itu segera tertutupi oleh kabar baik. Makan-makan. Yeeeeiy yipppiiiiie \(^^)/ . Lupakan diet hapus diet dari kamus besar bahasa Indonesia. Menunya ikan laut dan tempe dan sambel dan sayur dan jagung bakar. Sambelnyaaa beuuuh pedes banget. Tapi aku suka, rasanya membakar lidah dan semangatku, Merdekaaaa (maaf melenceng, maklum yang nulis ini otaknya agak melenceng). Mantap dah pokoknya. Setelah kenyang pulang kerumah nonton hunger games di fox movies bosan sama acara tahun baru di tv apalagi yks, peefffft banget itu :@ . Saat 30 detik sebelum 2014 baru nonton acara tahun baru ikut-ikutan ngitung duit detik-detik pergantian tahun. Pas jam 00.00 rasanya seneng dan agak gak percaya kalau tahun 2013 sudah berlalu. Banyak kenangan tentang mantan calon gebetan tahun 2013 yang gak bakal terlupa.

Well intinya semoga tahun 2014 jadi lebih baik dari tahun 2013. Aaaamiiiin.
Happy new years All :D

Senin, 30 Desember 2013

Renta (Juara 2 LOMBA CERPEN LPMF- LINGKAR SE-KABUPATEN JEMBER Kategori SMA)

Berbicara tentang renta, aku ini renta. Tua, lemah, dan peyot. Aku tak punya keluarga, dan tak mungkin punya keluarga. Walau tak punya keluarga aku tak sendiriran, Aku selalu ditemani seorang kawan yang lebih renta dariku. Lebih tua dan lebih lemah. Bersama kawanku aku menempuh jarak yang jauh, mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Agar dia terus hidup, agar dia tidak sakit, agar dia selalu ada untukku, menemaniku.

Bersyukur memiliki seorang kawan sepertinya. Dia selalu merawatku, membersihkanku setiap pagi.

Dibalik semangatnya dan kebaikannya dia menyimpan sejumlah kepedihan. Suaminya meninggal, anak satu-satunya pergi merantau tak pernah kembali. Dia sendirian dan sangat kesepian. Setiap malam dia selalu menangis dan meratap,” Anakku pulanglah, ibu rindu”. “Jangan menangis kawan aku selalu ada disini bersamamu,” aku berkata padanya. Sayang dia tak akan bisa mendengar apa yang aku katakan. Andai aku punya tangan ingin sekali aku menghapus air matanya itu. Tak tega melihat wanita berhati lembut sepertinya menangis.
                                                            *****
Di bawah sinar mentari yang terik dia menjajakan dagangannya bersamaku, sepeda tua yang peyot. Tapi dia tak menampakan raut muka yang lelah. Dia selalu tersenyum di setiap rumah pelanggan. Walau tak menampakkannya, aku tahu sebenarnya dia sudah sangat lelah. Terlihat dari kaki tuanya yang sedang mengayuh sepedaku. Tak tega rasanya melihat kaki tua itu.

Kami beristirahat di sebuah pohon besar di pinggir jalan raya. “Kita berteduh dulu ya,”katanya sambil tersenyum padaku. Orang mungkin akan menganggapnya gila karena dia berbicara dengan sebuah sepeda tua. Tapi dia tak gila. Dia hanya kesepian, tak tahulah keluarganya dimana. Hanya akulah yang menemaninya, tempatnya berbagi suka dan duka.

Tiba-tiba ada dua orang preman mendekati kami. Mereka merampasku dari kawanku. Aku ingin meronta tapi tak bisa, aku hanya benda mati. Kawanku berusaha merebutku dari mereka. Dia menyerahkan semua kerja keras kami hari ini demi mendapatkanku kembali. Betapa baiknya wanita ini. Dia menyerahkan uangnya yang dia gunakan untuk menyambung hidup demi aku.

Kedua preman itu pergi. Dia tampak bahagia karena preman itu tak jadi membawaku. “Sekarang kita mencari uang lagi ya, uang kita habis”, dia berkata padaku seolah hendak menyemangatiku.

Kalian pasti bertanya-tanya mengapa dia sangat baik padaku, bahkan rela menyerahkan semua uangnya hari ini agar aku tak dibawa preman. Aku adalah sepeda tua peninggalan suaminya. Mungkin karena itulah aku sangat berharga baginya.

Dia kembali menjajakan dagangannya. Kali ini dia menjajakan dagangannya lebih lama daripada hari biasanya. Walau dia berjualan lebih lama fari hari biasanya tapi hasil yang dia dapat sangat sedikit. Dagangannya hanya laku 2.

Tiba-tiba ditengah perjalanan ban ku bocor. Dia mencari-cari tempat tambal ban yang masih buka. Sayang nampaknya hari sudah sangat larut, jadi dia tidak menemukan tempat tambal ban yang masih buka. Maka diapun menuntunku hingga rumah. Tampak raut muka yang sangat lelah dari wajahnya. Kasihan sekali wanita berhati mulia ini. Terima kasih tuhan, akku dirawat oleh wanita yang berhati mulia, wanita yang selalu baik pada siapa saja. Bahkan kepada sepeda tua sepertiku.

Karena aku, malam ini dia hanya makan singkong. Uang untuk membeli nasi kurang karena siang tadi dia telah menyerahkan semua uang yang dia miliki telah dirampas preman.
                                                            *****
Semakin hari dia tampak semakin kurus. Tampaknya dia sedang mengalami gangguan kesehatan, dia sedang sakit batuk. Karena orang miskin dia hanya minum obat di warung.

Setiap hari batuknya semakin parah. Dia tau itu bukan batuk biasa, dan akupun mengetahuinya. Dia harus berobat ke dokter agar sembuh. Tapi, dia tak punya cukup uang untuk ke dokter. Dia hanya minum obat warung. Tuhan seandainya aku manusia, aku akan membantu wanita mulia yang malang ini. Aku akan membawanya ke dokter memberinya makanan bergizi dan tempat yang layak. Sayang aku hanya sepeda tua, yang sama lemahnya sepertinya dan sama tak berdayanya.

 Walau sakit dia tetap bekerja, dia tetap bersemangat. Bangun pagi-pagi buta, membersihkanku, dan menyiapkan dagangannya. Sebenarnya keadaannya sangat lemah hari ini. Tapi, dia tak menampakkannya. Bahkan tetangganya pun tak ada yang tahu dia sedang sakit keras. Dia selalu berkata bahwa dia hanya batuk biasa. Dia berusaha sebisa mungkin menutupi keadaannya yang sedang sangat tidak sehat. Dia tak ingin menyusahkan siapapun.

Dia wanita yang sangat kuat. Bahkan dia tetap tampak sangat tegar dikeadaan seperti ini.
                                                            *****
Keadaan sangat tak baik malam ini. Batuknya sudah benar-benar sangat parah. Dari dinding gubuknya aku dapat melihat dia sangat menderita. Dia tereus-menerus batuk. Hingga pada puncaknya aku melihat dia mengeluarkan darah dari mulutnya. Setelah itu dia terbaring di dipannya yang terbuat dari bambu. Karena melihatnya tertidur, aku mengira dia telah baik-baik saja. Aku tak mengira bahwa itulah tanda bahwa akhir hidupnya sudah sangat dekat.
                                                            *****
Keanehan terjadi hari ini, dia tak bangun dari tidurnya. Tidak biasanya, bukankah biasanya jam segini dia sudah siap untuk menyongsong rezekinya. Bukankah biasanya dia sedang membersihkanku. Mengapa dia masih tertidur lelap di dipan bambunya. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benakku. Mungkin itu efek dari obat yang dia minum semalam. Aku berharap semoga dia baik-baik saja.

Keanehan yang lain juga tampak lagi. Saat hari menjelang siang dia masih tertidur,dan banyak sekali tetangganya yang datang ke gubuk reyot miliknya. Oleh tetangganya lalu dia ditutupi kain putih. Dan tampak anaknya menangis disampingnya. Mengapa anaknya datang kesini. Mengapa dia sekarang dibungkus kain putih. Mungkinkah dia telah pergi. Tidak, dia tidak boleh pergi. Siapa yang akan merawatku sekarang. Siapa yang akan mengayuh pedalku.
“Kawan jangan pergi, jangan tinggalkan aku”, aku berteriak padanya. Aku menangis, tapi tak ada seorangpun yang dapat mendengarku.

Sepeninggalnya, aku sendirian di gubuk tua ini. Tak ada lagi yang menggunakan maupun merawatku. Seiring berjalannya waktu, diriku tampak semakin tua, semakin tak terawat. Badanku semakin berkarat, bahkan berlubang. Pedalku lepas dari badanku. Banku berlubang. Seluruh tubuhku tertutupi oleh debu yang cukup tebal.

Pada suatu hari tiba-tiba ada seseorang masuk ke gubuk milik kawanku yang telah lama tiada ini. Apakah itu pencuri. Aku sangat takut sekali.
Ternyata anak kawanku yang datang. Tampaknya, dia memiliki hati yang baik seperti ibunya. Mungkin dia datang kesini untuk mengambilku, untuk merawatku.

Ternyata benar dia datang untuk mengambilku. Terima kasih tuhan. Pasti ibunya sangata bangga memiliki anak sebaik ini.

Dia membawaku pergi ke suatu tempat yang tak aku kenal. Tempat apa ini, mengapa banyak sampah berserakan. “Jual-Beli Besi Tua”?? Mengapa dia membawaku ke sini. Mengapa ada pria yang membawa gergaji. Mengapa pria ini mendekatiku.

Jangan dekati aku, Jangan potong aku. Aku tak ingin berakhir seperti ini. JANGAN!!!

Karya: Neesrina Mafaza Suroyya / 11 ipa 1 / SMAN1JEMBER 

Kamis, 05 Desember 2013

Yeeeeeey.... It's OVER

Setelah dibantai habis-habisan selama seminggu sama ujian semester. Akhirnyaaaaa.. It's over. Yipiiiii ^^9. Tapi kabar buruknya aku remidi. BIOLOGI. Sudah ndak kaget. Udahlah i don't care. Pokoknya sudah selesai. Masalah remedial i don't care. Pokoknya aku kepingin refreshing. Ayeeeeee \(^^)/

Selasa, 03 Desember 2013

Exam.. Exam..

Hari yang melelahkan. Baynagkan bayangkan ulangan semester dua macam biologi dalam satu hari. Biologi dan biologi terapan. Gak diterapin aja sudah bikin pingsan apalagi pake acara diterapkan segala. Kalau kata temen-temen sekelasku pfffffft banget. Sumpah dari dulu aku gak jodoh sama namanya BIOLOGI. Aaaaargh pfffffft. Sudahlah aku gak tau hasilnya bakal gimana. Wish me luck aja.

Ujian tinggal tiga hari lagi. Semangat ^^9

Senin, 02 Desember 2013

Hunger Games: Catching Fire (Remember Who The Enemy is)

Remember who the enemy is. Kata-kata itulah yang selalu mengingatkan saya akan film Hunger Games: Catching Fire. Film ini adalah lanjutan dari film Hunger Games. Film ini menceritakan tentang kehidupan Katniss Everdeen setelah dia memenangkan Hunger Games ke 74. Setelah memenangkan Hunger Games bersama Peeta Mellark hidup Katniss tidak damai seperti yang ia inginkan. Setiap hari Katniss dihinggapi mimpi buruk akibat dari Hunger Games. Semua bermula karena Presiden Snow tidak mempercayai cinta Katniss kepada Peeta. Ia tahu bahwa sebenarnya Katniss mencintai Gale. Dan kisah kemenangan Katniss dan Peeta di Hunger Games tersebar ke seluruh penjuru Panem. Hal tersebut menyulut api pemberontakan di distrik-distrik di Panem. Presiden Snow menyuruh Katniss untuk membuktikan bahwa ia benar-benar mencintai Peeta saat berlangsungnya tour hal ini dimaksudkan untuk meredam para pemberontak. Jika hingga selesai tour Katniss belum bisa membuktikan hal tersebut maka seluruh keluarganya, keluarga Peeta, dan keluarga Gale akan dibunuh. Namum sayangnya acara tour yang dilaksanakan semakin menyulut api pemberontakan. Katniss pun merencanakan kabur ke hutan bersama keluarganya, keluarga Peeta, dan keluarga Gale. Gale tidak menyetujuinya karena Gale setuju dengan adanya pemberontakan.

Presiden Snow berniat untuk membunuh Katniss dengan cara merubah peraturan Quarter Quell ketiga. Quarter Quell adalah Hunger Games Spesial yang diadakan 25 tahun sekali. Mengapa disebut spesial karena jika pada Hunger Games hanya ada 2 peserta dari masing-masing distrik di quarter quell ada 4 peserta di masing-masing distrik, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Namun di Quarter Quell kali ini berbeda, di Quarter Quell ketiga para pemenang yang sebelumnya memenangkan Hunger Games diikut sertakan lagi dengan jumlah peserta maksimal dua di masing-masing distrik. Sebenarnya yang mewakili distrik 12 adalah Katniss dan Haymitch. Namun Peeta mengajukan diri sebagai relawan menggantikan Haymitch. Di arena inilah katnis mengalami berbagai pergolakan batin tentang siapa musuh siapa kawan.

Film ini lebih bagus dari film sebelumnya Hunger Games (menurut saya). Ceritanya lebih kompleks. Seragam peacekeeper keren. Aku sukaaaaaa. Bajunya Katniss pas diwawancara Caesar juga kereeeeen. Arena Quarter Quell juga dibuat lebih kompleks dari arena hunger games sebelumnya. Finnick Odair juga seganteng di Novel. Bajunya Effie Trinket juga keren-keren gak norak kayak yang di Hunger Games (ups). Kekurangannya itu gak sedetail yang di novel. Ada beberapa cerita di Novel yang gak diceritakan di film. Ending filmnya gantung, bikin sepupuku ngamuk-ngamuk karena sangat penasaran sama terusannya. Tapi keseluruhan keren, bagus, modern, jeger, awesome, amazing. Bagi yang penasaran dipersilahkan untuk nonton di bioskop terdekat. Arigatou Gozaimasu

Minggu, 01 Desember 2013

Welcome... Welcome... ^_^

Welcome to my blog. Let me introduce myself. My name is Neesrina Mafaza Suroyya. You can call me Erin. I was born on March 1st, 1998 in Jember, East Java, Indonesia. Now, i still live in Jember.