Daaan inilah cerpenku......
|
Hujan
|
*****
“Wah
hujan”
Aku
segera mempercepat langkahku. Aku tak ingin datang ke sekolah dalam keadaan
basah kuyup. Hujan mengguyur semua sudut kota. Yang tadi hanya berupa
titik-titik gerimis berubah menjadi gerombolan air yang marah.
“Sial”,
umpatku.
Aku
berusaha berlari secepat yang aku bisa. Sialnya hujan terlalu deras. Alhasil
aku sampai di halte bus dalam keadaan basah kuyup. Tak lama, bus pun tiba.
Semua orang di bus memandangku dengan tatapan aneh. Aku jadi tidak enak untuk
duduk. Akupun memilih untuk tetap berdiri.
“Duduk
aja”, seseorang menyapaku.
“Sial”,
aku mengumpat dalam hati. “Kenapa ada dia, di saat aku seperti ini, sial”.
“Eh..
Iya. Ndak apa-apa aku berdiri aja nanti kamu basah.”
“Santai
aja lagi. Sini duduk. Ngomong-ngomong namamu siapa. Sekolah dimana”
“Eh..
Aku. Anu namaku Sita. Aku dari SMA Cemara”
“Namaku
Rian. Aku sekolah disana juga. Kamu kelas berapa kok gak pernah kelihatan?”
“Kelas
11 IPA 5”
“Aku
kelas 11 juga tapi aku di IPA 2, kok aku
gak pernah keliatan kamu ya? Anak baru?”
“Bukan.
Cuma aku jarang keluar kelas.”
“Oh,
gitu”
Suara
degup jantungku berpacu dengan suara gemuruh hujan. Keringat yang bercucuran tertutupi oleh air
hujan yang membasahi tubuhku. Aku terus terdiam sepanjang perjalanan. Badanku
gemetaran, entah karena aku kedinginan atau karena ada dia. Entah.
“Kenapa?
Kamu kedinginan? Mau pinjem jaket?”, Rian bertanya padaku.
“Ya,
mau. Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Aku
memandang ke seberang jalan. Menyesapi keindahan yang mengecupku di pagi hari
yang penuh rintik hujan. “Lagi lihat siapa?”, Rian membuyarkan lamunanku.
“Eh
gak ada, Cuma lihat hujan. He..he..”
“Jangan
ngelamun. Nanti kesambet lho.”
“He..he..
ok.”
Aku
menunduk, menikmati irama degup jantungku yang berdetak tak menentu. Berdebat
dengan semua pikiran yang berjalan di benakku.
*****
“Hhhhh”,
aku menghela nafas membayangkan bagaimana hasil ulangan biologiku nanti. Ya,
aku tidak pandai biologi. Pelajaran yang bagi orang lain mudah telah menjadi
musuh bebuyutanku sejak dulu.
“Hoy,
ngelamun aja kerjaanmu”, lagi-lagi Rian datang mengagetkanku.
“Eh
kamu Yan. Kaget aku. Dasar ya, kerjaanmu ngagetin orang mulu.”
“Daripada
kamu tukang ngelamun. Emang lagi mikir apa sih kok suntuk banget mukamu.”
“Ini
tadi aku ulangan Biologi banyak yang gak bisa. Padahal aku sudah belajar.”
“Ya,
mungkin kemampuanmu bukan di biologi. Santai aja, kan setiap orang punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing”, Rian menghiburku.
“Betul
juga kamu.”
“Kalau
kamu gak bakat di biologi ya sudah gak usah sedih. Kembangin aja bakatmu yang
lain”, Rian memberiku saran.
“Makasih
ya masukannya.”
“Yoi.
Sama-sama.”
*****
Hari
demi hari, bulan demi bulan aku dan Rian semakin dekat. Kami seperti saudara,
kemana-mana selalu bersama. Dimana ada aku pasti ada Rian. Kami saling
mengetahui rahasia satu sama lain, termasuk tentang cowok. Aku sudah menceritakan
tentang cowok yang aku sukai kepada Rian. Tapi anehnya dia tidak ingin
memberitahuku tentang siapa cowok yang disukainya. Aku sudah memaksanya untuk
memberitahuku. Namun nampaknya dia masih bersikeras tidak ingin memberi tahuku.
“Siapa
Yan? Kasih tahu dong. Kan aku sudah ngasih tahu kamu.”
“Aduh,
Sit. Sudah aku kasih tahu kamu berkali-kali. Nanti kalau kamu tahu kamu pasti
ngejauhin aku, gak mau temenan sama aku.”
“Jangan
konyol, Yan. Gak bakal kok, aku janji. Masa gara-gara gitu doang aku gak mau
temenan sama kamu.”
“Kamu
keras kepala banget sih.”
“Kamu
tuh yang keras kepala.” Aku berpura-pura ngambek agar Rian mau memberi tahuku.
“Aduh,
Sit. Jangan pake acara ngambek dong. Oke oke aku kasih tahu. Aku itu suka ke”
“Teeeet...
teeeet...”, tiba-tiba bel tanda masukpun berbunyi.
“Eh,
Sit. Aku ke kelas dulu ya. Sekarang pelajarannya Pak Robi, bisa gawat kalau
telat masuk kelas, daaah”, Rian berlari menuju kelasnya, meninggalkanku yang
sedang penasaran tentang siapa cowok yang sedang disukai Rian.
“Eh..
eh... malah pake acara kabur”, aku mengejar Rian yang sedang berlari menuju
kelasnya. “Riani, jangan kabur kamu. Ayo kasih tahu siapa”, Aku berhasil menggenggam
tangan Rian.
Tapi,
tiba-tiba kami berpapasan dengan Aray. Aku langsung bersembunyi di balik
punggung Rian. “Hey, Ray”, Rian menyapa Aray.
”Hey,
Yan”, Aray membalas sapaan Rian.
”Ngapain
Sit kamu sembunyi. Malu-maluin aja, itu malah bikin Aray semakin curiga kalau
kamu suka dia.”
“Aku
kan malu.”
“Yaelah.
Ubahlah sikapmu kalau ketemu Aray. Biar gak malu-maluin. Biar gak kentara kalau
kamu suka Aray. Tingkahmu pas di bis itu aja udah bikin aku curiga kalau kamu
suka Aray.”
“Heeeh,
jadi kamu sudah tahu dari waktu hujan itu?”
“Bukan
tahu juga sih. Tapi curiga.”
“Gak
ada bedanya itu, Riani.”
“Bedalah.
Eh lepasin Sit, aku mau masuk kelas”, Riani menghentakan tangannya dan segera
berlari menuju kelasnya.
“Yan,
kamu belum kasih tahu aku. Riani.”
Sampai
saat ini Rian masih bersikukuh tidak ingin memberi tahuku. Aku memaklumi itu,
aku tidak lagi memaksanya untuk memberi tahuku karena setiap orang pasti punya
privasi yang tidak ingin dia beri tahu kepada siapapun.
*****
Tak
terasa aku sudah kelas 12 SMA. Tinggal 2 minggu lagi aku akan menghadapi ujian
nasional. Tentunya berbagai macam perasaan campur aduk menyelimuti benakku.
Apalagi sebulan terakhir ini Rian sudah tidak pernah bermain denganku lagi. Dia
sudah tidak pernah mengunjungi rumahku. Bahkan keluargaku sampai menanyakan
kenapa Rian tidak pernah lagi main ke rumah. Awalnya aku memaklumi, karena
ujian nasional semakin dekat. Pasti dia sedang sibuk mempersiapkan ujian
nasional. Tapi tingkahnya semakin aneh karena dia tidak pernah lagi
menghubungiku bahkan saat di sekolah dia cenderung menghindariku. Entah, aku
tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada sahabatku.
*****
Pagi
ini suasana dingin sekali karena hujan mengguyur kotaku sejak kemarin. Saat di
sekolah aku dihantam berita yang tidak mengenakan. Aku mendengar desas-desus
bahwa Aray sudah punya pacar sejak 1 bulan yang lalu. Hal itu tentu saja
menyakitiku, ingin sekali aku menangis dan bercerita kepada Rian.
Sepulang
sekolah aku pergi ke rumahnya. Baru saja pintu dibuka oleh Rian aku langsung
menghambur ke pelukannya sambil menangis. Rian tentu saja kaget oleh tingkahku.
“Ada
apa, Sit. Kok nangis?”
“Aray
yan. Aray.”
“Kenapa
Aray?”
“Dia
punya pacar.”
“Ayo
cerita di kamarku.”
Aku
menceritakan semuanya ke Rian sambil menangis sesenggukan. Entah sudah berapa
lembar tissue habis kugunakan.
“Mungkin
dia bukan pria terbaik untukmu. Cobalah untuk tegar dan melupakan”, Rian
mencoba membesarkan hatiku.
“
Tapi aku sudah suka dia dari kelas 10 SMA.”
“Sita,
banyak sekali cowok di luar sana yang sedang menunggu gadis manis sepertimu.
Cobalah buka matamu dan buka hatimu. Kamu pasti akan menemukan pangeran
impianmu.”
“Tapi
Yan. Tapi.”
“Dimana
sosok Sita yang selalu ceria dan kuat. Masa gara-gara cowok aja sudah lembek”,
Rian berusaha menghiburku. “Ayo senyum. Mana senyumnya?”
Akupun
mencoba untuk tersenyum.
“Ah
gak ikhlas itu senyumnya. Yang lebar dong”, Rian memperlihatkan semua
gigi-giginya yang putih.
“Hahaha”,
akupun tertawa melihat ekspresi anehnya itu.
“Nah
gitu dong. Itu baru Sita.”
*****
Ujian
nasional sudah terlewati. Pengumuman kelulusan juga sudah diumumkan. Aku dan
Rian lulus dengan hasil memuaskan. Ingin sekali aku merayakan kelulusan kami
sekaligus ulang tahunnya . Akupun merencanakan kejutan untuknya.
Jam
sudah menunjukan pukul 7 malam. Aku bersiap dengan kado dan sebuket mawar merah
jambu, kesukaaan Rian. Aku sengaja tidak memberi tahunya karena ini adalah
sebuah kejutan.
Aku
berjalan menuju rumah Rian yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Sialnya di
tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akupun berlari sambil
melindungi kado dan sebuket mawar merah jambu untuk Rian. Saat sudah dekat
dengan rumah Rian aku melihat sepeda motor Aray di depan rumah Rian.
“Loh
kok ada motornya Aray”, berbagai pertanyaan melingkupi benakku.
Aku
memperlambat jalanku. Saat berada di seberang jalan di depan rumah Rian aku
melihat pemandangan di teras rumah Rian yang menusuk mata dan hatiku. Kado dan
sebuket mawar merah jambu jatuh dari genggamanku. Hanyut menuju selokan bersama
hujan dan air mataku.
(TAMAT [mungkin...])
Jika anda sudah membaca hingga tulisan ini SELAMAT. Anda termasuk manusia super karena sudah mampu menolak efek cerpen ini (Halah apane). Arigatou Gozaimasu XD
