Berbicara tentang renta, aku ini
renta. Tua, lemah, dan peyot. Aku tak punya keluarga, dan tak mungkin punya
keluarga. Walau tak punya keluarga aku tak sendiriran, Aku selalu ditemani
seorang kawan yang lebih renta dariku. Lebih tua dan lebih lemah. Bersama
kawanku aku menempuh jarak yang jauh, mencari sesuap nasi untuk menyambung
hidup. Agar dia terus hidup, agar dia tidak sakit, agar dia selalu ada untukku,
menemaniku.
Bersyukur memiliki seorang kawan
sepertinya. Dia selalu merawatku, membersihkanku setiap pagi.
Dibalik semangatnya dan kebaikannya
dia menyimpan sejumlah kepedihan. Suaminya meninggal, anak satu-satunya pergi
merantau tak pernah kembali. Dia sendirian dan sangat kesepian. Setiap malam
dia selalu menangis dan meratap,” Anakku pulanglah, ibu rindu”. “Jangan
menangis kawan aku selalu ada disini bersamamu,” aku berkata padanya. Sayang
dia tak akan bisa mendengar apa yang aku katakan. Andai aku punya tangan ingin
sekali aku menghapus air matanya itu. Tak tega melihat wanita berhati lembut
sepertinya menangis.
*****
Di bawah sinar mentari yang terik
dia menjajakan dagangannya bersamaku, sepeda tua yang peyot. Tapi dia tak
menampakan raut muka yang lelah. Dia selalu tersenyum di setiap rumah
pelanggan. Walau tak menampakkannya, aku tahu sebenarnya dia sudah sangat
lelah. Terlihat dari kaki tuanya yang sedang mengayuh sepedaku. Tak tega
rasanya melihat kaki tua itu.
Kami beristirahat di sebuah pohon
besar di pinggir jalan raya. “Kita berteduh dulu ya,”katanya sambil tersenyum
padaku. Orang mungkin akan menganggapnya gila karena dia berbicara dengan
sebuah sepeda tua. Tapi dia tak gila. Dia hanya kesepian, tak tahulah
keluarganya dimana. Hanya akulah yang menemaninya, tempatnya berbagi suka dan
duka.
Tiba-tiba ada dua orang preman
mendekati kami. Mereka merampasku dari kawanku. Aku ingin meronta tapi tak
bisa, aku hanya benda mati. Kawanku berusaha merebutku dari mereka. Dia
menyerahkan semua kerja keras kami hari ini demi mendapatkanku kembali. Betapa
baiknya wanita ini. Dia menyerahkan uangnya yang dia gunakan untuk menyambung
hidup demi aku.
Kedua preman itu pergi. Dia tampak
bahagia karena preman itu tak jadi membawaku. “Sekarang kita mencari uang lagi
ya, uang kita habis”, dia berkata padaku seolah hendak menyemangatiku.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa
dia sangat baik padaku, bahkan rela menyerahkan semua uangnya hari ini agar aku
tak dibawa preman. Aku adalah sepeda tua peninggalan suaminya. Mungkin karena
itulah aku sangat berharga baginya.
Dia kembali menjajakan dagangannya.
Kali ini dia menjajakan dagangannya lebih lama daripada hari biasanya. Walau
dia berjualan lebih lama fari hari biasanya tapi hasil yang dia dapat sangat
sedikit. Dagangannya hanya laku 2.
Tiba-tiba ditengah perjalanan ban ku
bocor. Dia mencari-cari tempat tambal ban yang masih buka. Sayang nampaknya
hari sudah sangat larut, jadi dia tidak menemukan tempat tambal ban yang masih
buka. Maka diapun menuntunku hingga rumah. Tampak raut muka yang sangat lelah
dari wajahnya. Kasihan sekali wanita berhati mulia ini. Terima kasih tuhan,
akku dirawat oleh wanita yang berhati mulia, wanita yang selalu baik pada siapa
saja. Bahkan kepada sepeda tua sepertiku.
Karena aku, malam ini dia hanya
makan singkong. Uang untuk membeli nasi kurang karena siang tadi dia telah
menyerahkan semua uang yang dia miliki telah dirampas preman.
*****
Semakin hari dia tampak semakin
kurus. Tampaknya dia sedang mengalami gangguan kesehatan, dia sedang sakit
batuk. Karena orang miskin dia hanya minum obat di warung.
Setiap hari batuknya semakin parah.
Dia tau itu bukan batuk biasa, dan akupun mengetahuinya. Dia harus berobat ke
dokter agar sembuh. Tapi, dia tak punya cukup uang untuk ke dokter. Dia hanya
minum obat warung. Tuhan seandainya aku manusia, aku akan membantu wanita mulia
yang malang ini. Aku akan membawanya ke dokter memberinya makanan bergizi dan
tempat yang layak. Sayang aku hanya sepeda tua, yang sama lemahnya sepertinya
dan sama tak berdayanya.
Walau sakit dia tetap bekerja, dia tetap
bersemangat. Bangun pagi-pagi buta, membersihkanku, dan menyiapkan dagangannya.
Sebenarnya keadaannya sangat lemah hari ini. Tapi, dia tak menampakkannya.
Bahkan tetangganya pun tak ada yang tahu dia sedang sakit keras. Dia selalu
berkata bahwa dia hanya batuk biasa. Dia berusaha sebisa mungkin menutupi
keadaannya yang sedang sangat tidak sehat. Dia tak ingin menyusahkan siapapun.
Dia wanita yang sangat kuat. Bahkan
dia tetap tampak sangat tegar dikeadaan seperti ini.
*****
Keadaan sangat tak baik malam ini.
Batuknya sudah benar-benar sangat parah. Dari dinding gubuknya aku dapat
melihat dia sangat menderita. Dia tereus-menerus batuk. Hingga pada puncaknya
aku melihat dia mengeluarkan darah dari mulutnya. Setelah itu dia terbaring di
dipannya yang terbuat dari bambu. Karena melihatnya tertidur, aku mengira dia
telah baik-baik saja. Aku tak mengira bahwa itulah tanda bahwa akhir hidupnya
sudah sangat dekat.
*****
Keanehan terjadi hari ini, dia tak
bangun dari tidurnya. Tidak biasanya, bukankah biasanya jam segini dia sudah
siap untuk menyongsong rezekinya. Bukankah biasanya dia sedang membersihkanku.
Mengapa dia masih tertidur lelap di dipan bambunya. Pertanyaan-pertanyaan
muncul di benakku. Mungkin itu efek dari obat yang dia minum semalam. Aku
berharap semoga dia baik-baik saja.
Keanehan yang lain juga tampak lagi.
Saat hari menjelang siang dia masih tertidur,dan banyak sekali tetangganya yang
datang ke gubuk reyot miliknya. Oleh tetangganya lalu dia ditutupi kain putih.
Dan tampak anaknya menangis disampingnya. Mengapa anaknya datang kesini.
Mengapa dia sekarang dibungkus kain putih. Mungkinkah dia telah pergi. Tidak,
dia tidak boleh pergi. Siapa yang akan merawatku sekarang. Siapa yang akan
mengayuh pedalku.
“Kawan jangan pergi, jangan
tinggalkan aku”, aku berteriak padanya. Aku menangis, tapi tak ada seorangpun
yang dapat mendengarku.
Sepeninggalnya, aku sendirian di
gubuk tua ini. Tak ada lagi yang menggunakan maupun merawatku. Seiring
berjalannya waktu, diriku tampak semakin tua, semakin tak terawat. Badanku
semakin berkarat, bahkan berlubang. Pedalku lepas dari badanku. Banku
berlubang. Seluruh tubuhku tertutupi oleh debu yang cukup tebal.
Pada suatu hari tiba-tiba ada
seseorang masuk ke gubuk milik kawanku yang telah lama tiada ini. Apakah itu
pencuri. Aku sangat takut sekali.
Ternyata anak kawanku yang datang.
Tampaknya, dia memiliki hati yang baik seperti ibunya. Mungkin dia datang
kesini untuk mengambilku, untuk merawatku.
Ternyata benar dia datang untuk
mengambilku. Terima kasih tuhan. Pasti ibunya sangata bangga memiliki anak
sebaik ini.
Dia membawaku pergi ke suatu tempat
yang tak aku kenal. Tempat apa ini, mengapa banyak sampah berserakan.
“Jual-Beli Besi Tua”?? Mengapa dia membawaku ke sini. Mengapa ada pria yang
membawa gergaji. Mengapa pria ini mendekatiku.
Jangan dekati aku, Jangan potong
aku. Aku tak ingin berakhir seperti ini. JANGAN!!!
Karya: Neesrina Mafaza Suroyya / 11 ipa 1 / SMAN1JEMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar