Pages

Selasa, 31 Desember 2013

Cerpen yang Gak Juara :"D

Aku ikut lomba cerpen tingkat nasional. Gak tau diri banget aku tulisan ancur diikutkan ke lomba gituan. Yah gak apa-apalah itung-itung sebagai pengalaman terjebak di dunia curhat-zone di dunia tulis-menulis. Dan hasilnya... Yeeeee :D aku KALAH -_- => T^T . Kecewa? Lumayanlah. Tapi lebih kecewa saat di PHP dan terjebak di friendzone dan curhat-zone (eh sorry curhat dikit. SENGAJA!). Mau baca cerpenku? Sebaiknya jangan karena efeknya lebih dahsyat dari bencana nuklir di Chernobyl. Sebelum membaca harus sholat tolak bala dulu untuk meminta perlindungan kepada Allah dari marabahaya yang diakibatkan oleh coretan-coretan saya. Untuk yang nasrani silahkan ke gereja dulu, untuk yang hindu silahkan ke pura dulu, untuk yang budha silahkan ke vihara dulu. Sebelum membaca sediakan kantung muntah juga.

Daaan inilah cerpenku......

Hujan
Hujan memadamkan apiku, menghapus warna merah jambu, menghanyutkan semua rasa. Ini bukan salah hujan, ini bukan salahmu, ini bukan salahnya. Ini salahku yang terlalu takut untuk menghadapi percikan api asmara di dadaku.
                                                                        *****
“Wah hujan”
Aku segera mempercepat langkahku. Aku tak ingin datang ke sekolah dalam keadaan basah kuyup. Hujan mengguyur semua sudut kota. Yang tadi hanya berupa titik-titik gerimis berubah menjadi gerombolan air yang marah.
“Sial”, umpatku.
Aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Sialnya hujan terlalu deras. Alhasil aku sampai di halte bus dalam keadaan basah kuyup. Tak lama, bus pun tiba. Semua orang di bus memandangku dengan tatapan aneh. Aku jadi tidak enak untuk duduk. Akupun memilih untuk tetap berdiri.
“Duduk aja”, seseorang menyapaku.
“Sial”, aku mengumpat dalam hati. “Kenapa ada dia, di saat aku seperti ini, sial”.
“Eh.. Iya. Ndak apa-apa aku berdiri aja nanti kamu basah.”
“Santai aja lagi. Sini duduk. Ngomong-ngomong namamu siapa. Sekolah dimana”
“Eh.. Aku. Anu namaku Sita. Aku dari SMA Cemara”
“Namaku Rian. Aku sekolah disana juga. Kamu kelas berapa kok gak pernah kelihatan?”
“Kelas 11 IPA 5”
“Aku kelas 11 juga tapi aku di IPA 2,  kok aku gak pernah keliatan kamu ya? Anak baru?”
“Bukan. Cuma aku jarang keluar kelas.”
“Oh, gitu”

Suara degup jantungku berpacu dengan suara gemuruh hujan.  Keringat yang bercucuran tertutupi oleh air hujan yang membasahi tubuhku. Aku terus terdiam sepanjang perjalanan. Badanku gemetaran, entah karena aku kedinginan atau karena ada dia. Entah.
“Kenapa? Kamu kedinginan? Mau pinjem jaket?”, Rian bertanya padaku.
“Ya, mau. Makasih ya.”
“Sama-sama.”

Aku memandang ke seberang jalan. Menyesapi keindahan yang mengecupku di pagi hari yang penuh rintik hujan. “Lagi lihat siapa?”, Rian membuyarkan lamunanku.
“Eh gak ada, Cuma lihat hujan. He..he..”
“Jangan ngelamun. Nanti kesambet lho.”
“He..he.. ok.”

Aku menunduk, menikmati irama degup jantungku yang berdetak tak menentu. Berdebat dengan semua pikiran yang berjalan di benakku.
                                                                        *****
“Hhhhh”, aku menghela nafas membayangkan bagaimana hasil ulangan biologiku nanti. Ya, aku tidak pandai biologi. Pelajaran yang bagi orang lain mudah telah menjadi musuh bebuyutanku sejak dulu.
“Hoy, ngelamun aja kerjaanmu”, lagi-lagi Rian datang mengagetkanku.
“Eh kamu Yan. Kaget aku. Dasar ya, kerjaanmu ngagetin orang mulu.”
“Daripada kamu tukang ngelamun. Emang lagi mikir apa sih kok suntuk banget mukamu.”
“Ini tadi aku ulangan Biologi banyak yang gak bisa. Padahal aku sudah belajar.”
“Ya, mungkin kemampuanmu bukan di biologi. Santai aja, kan setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing”, Rian menghiburku.
“Betul juga kamu.”
“Kalau kamu gak bakat di biologi ya sudah gak usah sedih. Kembangin aja bakatmu yang lain”, Rian memberiku saran.
“Makasih ya masukannya.”
“Yoi. Sama-sama.”
                                                                        *****
Hari demi hari, bulan demi bulan aku dan Rian semakin dekat. Kami seperti saudara, kemana-mana selalu bersama. Dimana ada aku pasti ada Rian. Kami saling mengetahui rahasia satu sama lain, termasuk tentang cowok. Aku sudah menceritakan tentang cowok yang aku sukai kepada Rian. Tapi anehnya dia tidak ingin memberitahuku tentang siapa cowok yang disukainya. Aku sudah memaksanya untuk memberitahuku. Namun nampaknya dia masih bersikeras tidak ingin memberi tahuku.
“Siapa Yan? Kasih tahu dong. Kan aku sudah ngasih tahu kamu.”
“Aduh, Sit. Sudah aku kasih tahu kamu berkali-kali. Nanti kalau kamu tahu kamu pasti ngejauhin aku, gak mau temenan sama aku.”
“Jangan konyol, Yan. Gak bakal kok, aku janji. Masa gara-gara gitu doang aku gak mau temenan sama kamu.”
“Kamu keras kepala banget sih.”
“Kamu tuh yang keras kepala.” Aku berpura-pura ngambek agar Rian mau memberi tahuku.
“Aduh, Sit. Jangan pake acara ngambek dong. Oke oke aku kasih tahu. Aku itu suka ke”
“Teeeet... teeeet...”, tiba-tiba bel tanda masukpun berbunyi.
“Eh, Sit. Aku ke kelas dulu ya. Sekarang pelajarannya Pak Robi, bisa gawat kalau telat masuk kelas, daaah”, Rian berlari menuju kelasnya, meninggalkanku yang sedang penasaran tentang siapa cowok yang sedang disukai Rian.
“Eh.. eh... malah pake acara kabur”, aku mengejar Rian yang sedang berlari menuju kelasnya. “Riani, jangan kabur kamu. Ayo kasih tahu siapa”, Aku berhasil menggenggam tangan Rian.
Tapi, tiba-tiba kami berpapasan dengan Aray. Aku langsung bersembunyi di balik punggung Rian. “Hey, Ray”, Rian menyapa Aray.
”Hey, Yan”, Aray membalas sapaan Rian.
”Ngapain Sit kamu sembunyi. Malu-maluin aja, itu malah bikin Aray semakin curiga kalau kamu suka dia.”
“Aku kan malu.”
“Yaelah. Ubahlah sikapmu kalau ketemu Aray. Biar gak malu-maluin. Biar gak kentara kalau kamu suka Aray. Tingkahmu pas di bis itu aja udah bikin aku curiga kalau kamu suka Aray.”
“Heeeh, jadi kamu sudah tahu dari waktu hujan itu?”
“Bukan tahu juga sih. Tapi curiga.”
“Gak ada bedanya itu, Riani.”
“Bedalah. Eh lepasin Sit, aku mau masuk kelas”, Riani menghentakan tangannya dan segera berlari menuju kelasnya.
“Yan, kamu belum kasih tahu aku. Riani.”
Sampai saat ini Rian masih bersikukuh tidak ingin memberi tahuku. Aku memaklumi itu, aku tidak lagi memaksanya untuk memberi tahuku karena setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin dia beri tahu kepada siapapun.
                                                                        *****
Tak terasa aku sudah kelas 12 SMA. Tinggal 2 minggu lagi aku akan menghadapi ujian nasional. Tentunya berbagai macam perasaan campur aduk menyelimuti benakku. Apalagi sebulan terakhir ini Rian sudah tidak pernah bermain denganku lagi. Dia sudah tidak pernah mengunjungi rumahku. Bahkan keluargaku sampai menanyakan kenapa Rian tidak pernah lagi main ke rumah. Awalnya aku memaklumi, karena ujian nasional semakin dekat. Pasti dia sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional. Tapi tingkahnya semakin aneh karena dia tidak pernah lagi menghubungiku bahkan saat di sekolah dia cenderung menghindariku. Entah, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada sahabatku.
                                                                        *****
Pagi ini suasana dingin sekali karena hujan mengguyur kotaku sejak kemarin. Saat di sekolah aku dihantam berita yang tidak mengenakan. Aku mendengar desas-desus bahwa Aray sudah punya pacar sejak 1 bulan yang lalu. Hal itu tentu saja menyakitiku, ingin sekali aku menangis dan bercerita kepada Rian.

Sepulang sekolah aku pergi ke rumahnya. Baru saja pintu dibuka oleh Rian aku langsung menghambur ke pelukannya sambil menangis. Rian tentu saja kaget oleh tingkahku.
“Ada apa, Sit. Kok nangis?”
“Aray yan. Aray.”
“Kenapa Aray?”
“Dia punya pacar.”
“Ayo cerita di kamarku.”
Aku menceritakan semuanya ke Rian sambil menangis sesenggukan. Entah sudah berapa lembar tissue habis kugunakan.

“Mungkin dia bukan pria terbaik untukmu. Cobalah untuk tegar dan melupakan”, Rian mencoba membesarkan hatiku.
“ Tapi aku sudah suka dia dari kelas 10 SMA.”
“Sita, banyak sekali cowok di luar sana yang sedang menunggu gadis manis sepertimu. Cobalah buka matamu dan buka hatimu. Kamu pasti akan menemukan pangeran impianmu.”
“Tapi Yan. Tapi.”
“Dimana sosok Sita yang selalu ceria dan kuat. Masa gara-gara cowok aja sudah lembek”, Rian berusaha menghiburku. “Ayo senyum. Mana senyumnya?”
Akupun mencoba untuk tersenyum.
“Ah gak ikhlas itu senyumnya. Yang lebar dong”, Rian memperlihatkan semua gigi-giginya yang putih.
“Hahaha”, akupun tertawa melihat ekspresi anehnya itu.
“Nah gitu dong. Itu baru Sita.”
                                                                        *****
Ujian nasional sudah terlewati. Pengumuman kelulusan juga sudah diumumkan. Aku dan Rian lulus dengan hasil memuaskan. Ingin sekali aku merayakan kelulusan kami sekaligus ulang tahunnya . Akupun merencanakan kejutan untuknya.

Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Aku bersiap dengan kado dan sebuket mawar merah jambu, kesukaaan Rian. Aku sengaja tidak memberi tahunya karena ini adalah sebuah kejutan.

Aku berjalan menuju rumah Rian yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Sialnya di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akupun berlari sambil melindungi kado dan sebuket mawar merah jambu untuk Rian. Saat sudah dekat dengan rumah Rian aku melihat sepeda motor Aray di depan rumah Rian.
“Loh kok ada motornya Aray”, berbagai pertanyaan melingkupi benakku.
Aku memperlambat jalanku. Saat berada di seberang jalan di depan rumah Rian aku melihat pemandangan di teras rumah Rian yang menusuk mata dan hatiku. Kado dan sebuket mawar merah jambu jatuh dari genggamanku. Hanyut menuju selokan bersama hujan dan air mataku.

                                                                  (TAMAT [mungkin...])

Jika anda sudah membaca hingga tulisan ini SELAMAT. Anda termasuk manusia super karena sudah mampu menolak efek cerpen ini (Halah apane). Arigatou Gozaimasu XD 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar